Saterdag 04 Mei 2013

ASSESMEN KINERJA DAN ASSESMEN PORTOFOLIO



A.   Assesmen Kinerja
          Suatu asessmen yang melibatkan siswa di dalam tugas-tugas otentik yang bermanfaat, penting dan bermakna diantaranya asessmen kinerja, observasi dan pertanyaan, presentasi dan diskusi, proyek dan investigasi, serta potofolio dan jurnal. Asessmen kinerja bertujuan untuk mengases untuk kerja siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas tertentu. Portofolio merupakan kumpulan pekerjaan siswa yang menunjukkan usaha, perkembangan dan kecakapan mereka dalam satu bidang atau lebih. Kumpulan ini harus melibatkan partisipasi siswa dalam seleksi isi, kriteria seleksi, kriteria penilaian dan bukti refleksi diri.
            Asessmen Kinerja yaitu penilaian terhadap proses perolehan penerapan pengetahuan dan ketrampilan melalui proses pembelajaran yang menunjukkan kemampuan siswa dalam proses dan produk. Asessmen kinerja pada prinsipnya lebih ditekankan pada proses ketrampilan dan kecakapan dalam menyeleseikan tugas yang diberikan. Asessmen ini sangat cocok digunakan untuk menggambarkan proses, kegiatan atau unjuk kerja. Asesmen ini melibatkan aktivitas siswa yang membutuhkan unjuk ketrampilan tertentu atau penciptaan hasil yang telah ditentukan. Karena itu, metodologi asesmen ini memberikan peluang kepada guru untuk menilai pencapaian berbagai hasil pendidikan yang sebenarnya tidak dapat dijabarkan di dalam tes tertulis. Melalui metodologi ini, asesmen kinerja memungkinkan guru mengamati siswa saat sedang bekerja atau melakukan tugas belajar atau guru dapat menguji hasil-hasil yang dapat dicapai, serta menilai (judge) tingkat penguasaan/kecakapan yang dicapai siswa.
            Asesmen kinerja tidak hanya bergantung pada jawaban benar atau salah. Sebaaimana halnya dengan asesmen bentuk esay, observasi yang dilakykan oleh guru dalam rangka melakukan pertimbangan-pertimbangan subyektif berkenaan dengan level prestasi yang dicapai siswa. Evaluasi ini didasarkan pada perbandingan kinerja siswa dalam mencapai standar excellent (keunggulan prestasi) yang telah dicapai sebelunya. Sebagaimana tes esay, pertimbangan guru digunakan sebagai dasar penempatan kinerja siswa pada suatu kesatuan/kontinum tingkata-tingkatan prestasi yang terentang mulai dari tingkatan yang sangat rendah sampai tingkatan yang sangat tinggi.
            Hal-hal yang harus kita pahami tentang asesmen kinerja adalah kita mendesain dan mengembangkan asesmen kinerja untuk digunakan kelak di kelas kita sendiri. Metodologi asesmen kinerja bukanlah suatu obat yang mujarab, bukan penyelamat guru dan juga bukan merupakan suatu kunci untuk menilai kurikulum yang sebenarnya. Asesmen ini semata-mata merupakan alat yang memberikan cara-cara efisien dan efektif unutk menilai beberapa (bukan keseluruhan) hasil-hasil  dari proses pendidikan yang dipandang berguna.
            Berdasarkan cara melaksanakan asesmen kinerja, dapat dikelompokkan menjandi :
a.       Asesmen kinerja klasikal digunakan untuk mengases kinerja siswa secara keseluruhan dalam satu kelas keseluruhan.
b.      Asesmen kinerja kelompok untuk mengases kinerja siswa secara berkelompok
c.       Asesmen kinerja individu untuk mengases kinerja siswa secara individu
Pelaksanaannya guru dapat mengatur secara fleksibel kinerja-kinerja yang akan diases dalam kurun waktu tertentu. Misalnya dalam dua semester guru merencanakan untuk mengases ketrampilan setiap siswa dalam membuat larutan. Guru merencanakan dalam dua semester tersebut empat kali kegiatan yang menuntun siswa mmebuat larutan. Maka guru dapat membagi siswa ke dalam empat kelompok siswa yang akan di ases pada pembuatan larutan. Siswa kelompok pertama membuat akan mengases  pada pembuatan larutan pertama, dan siswa kelompok kedua akan mengases larutan yang berikutnya. Sehingga setiap siswa mendapat kesempatan yang sama untuk dinilai ketrampilannya dlam membuat larutan. Asesmen kinerja yang digunakan oleh guru tersebut adalah asesmen kinerja individu :
            Untuk merealisasikan asesmen kinerja ini, di mulai dengan membuat perencanaan asesmen kinerja yang meliputi tiga fase penting, yaitu :
1.      Fase 1 : Mendefinisikan kinerja.
Pada tahap ini ditentukan jenis kinerja apa yang ingin di nilai. Misalnya kemampuan menggunakan mikroskop dapat diurai menjadi: membawa mikroskop dengan benar, menggunakan lensa dengan pembesaran kecil terlebih dahulu, mengatur pencahayaan, memasang preparat dan nmemfokuskan bayangan benda.
2.      Fase 2 : Mendesain latihan-latihan kinerja.
Setelah kinerja yang akan di nilai ditentukan tahap berikutnya adalah menyediakan pembelajaran yang memungkinkan aspek kinerja yang akan dinilai dapat muncul. Misalnya guru akan menilai kemampuan menggunakan mikroskop, maka KBM yang dipersiapkan adalah praktikum dengan menggunakan mikroskop.
3.      Fase 3 : melakukan penskoran dan perekaman atau pencatatan hasil.
Asesmen kinerja bersifat lugas (fleksibelitas) dalam pengembangan bagian-bagiannya, tetapi ada beberapa yang perlu diperhatikan yaitu ketika meninjau faktor-faktor konteks dalam rangka pengambilan keputusan tentang kapan mengadopsi metode-metode assesmen kinerja. Pada dasarnya faktor-faktor utama yang dipertimbangkan dalam proses seleksi assesmen sesuai dengan sasaran prestasi untuk siswa dan juga dengan metodologi assesmen.
Dalam klafikasi kinerja, pemakai bebas memilih dari suatu rentangan sasaran prestasi yang mungkin dan assesmen kinerja dapat difokuskan pada sasaran-sasaran khusus dengan mengambil tiga keputusan desain : merumuskan jenis kinerja yang dinilai, mengidentifikasi siapa yang akan dinilai dan menetapkan kriteria kinerja.
Kegiatan dalam komponen pengembangan latihan harus dipikirkan hal-hal yang menyebabkan siswa melakukan tertentu yang dapat merefleksikan tingkat penguasaan atau kecakapaan atau prestasi yang dicapai. Karena itu, dalam hal ini harus dipertimbangkan hakekat latihan, banyaknya latihan yang dibutuhkan dan petunjuk-petunjuk aktual bagi siswa untuk melakukan latihan tersebut.
Dalam hal penskoran, penilaian sebaiknya dilakukan oleh lebih dari satu orang agar faktor subjektivitas dapat diperkecil dan hasil penilaian lebih akurat. Penilaian unjuk kerja dapat dilakukann dengan menggunakan dafter cek (ya-tidak)  atau skala rentang (sangat baik-baik-kurang baik-tidak baik).
B.   Assesmen Portofolio
Salah satu prinsip penilaian adalah bersifat menyeluruh artinya menyangkut semua aspek kepribadian siswa yakni aspek produk dalam proses belajar. Penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh man hasil belajar siswa atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) siswa dapat dijaring melalui berbagai assesmen. Assesmen portofolio merupakan assesmen otentik yang menggambarkan kemajuan belajar siswa dengan bukti-bukti yang diseleksi bersama oleh siswa dan guru.
Bukti-bukti yang dikumpulkan dalam portofolio merupakan hasil seleksi bersama antara siswa dengan guru yang dianggap karya terbaik dan berarti bagi siswa. Kumpulan karya siswa yang akan dikumpulakan sebagai dokumen portofolio terlebih dahulu direviw oleh guru, sehingga bersama guru siswa dapat menetukan bukti-bukti nyata yang menggambarkan perkembangan dirinya.
Portofolio sebagai assesmen otentik dapat digunakan untuk berbagai keperluan, yaitu :
1.      Mendokumentasikan kemajuan siswa selama kurun waktu tertentu.
2.      Mengetahui bagian-bagian yang perlu diperbaiki
3.      Membangkitkan kepercayaan diri dan motivatasi untuk belajar
4.      Mendorong tanggung jawab siswa untuk belajar.
Keuntungan penerapan portofolio sebagai assesmen otentik antara lain sebagai berikut:
1.      Kemajuan belajar siswa dapat terlihat dengan jelas, misalnya serangkaian kumpulan jurnal dan laporan percobaan siswa dalam kurun waktu tertentu dapat memberikan gambaran mengenai kemajuan siswa dalam membuat laporan.
2.      Menekankan pada hasil pekerjaan terbaik siswa dapat serta memberikan pengaruh positif dalam belajar. Seleksi hasil karya terbaik siswa melibatkan siswa sehingga siswa merasa dihargai
3.      Membandingkan pekerjaan sekarang dengan lalu memberikan motivasi yang lebih besar daripada membandingkan dengan pekerjaan orang lain.
4.      Siswa dilatih untuk menetukan pilihan karya terbaik.
5.      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sesuai dengan perbedaan individu.
6.      Dapat menjadi alat komunikasi yang jelas tentang kemajuan belajar siswa kepada siswa itu sendiri orang tua dan pihak lain yang terkait.
Guru dapat mengumpulkan portofolio melalui berbagai cara. Cara yang akan dipakai harus disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai, tingkatan siswa dan jenis kegiatan yang dilakukan. Berikut ini adalah model portofolio IPA SD yang berisi contoh-contoh pekerjaan siswa.
1.      Hasil ulangan
2.      Uraian tertulis hasil kegiatan percobaan sederhana.
3.      Gambar-gambar dan laporan lisan
4.      Produk berupa hasil pekerjaan proyek.
5.      Laporan kelompok dan foto kegiatan siswa.
6.      Respon terhadap pertanyaan open-ended masalah pekerjaan rumah
7.      Salinan piagam penghargaan.
Selanjutnya contoh-contoh pekerjaan tersebut disimpan dalam satu tempat khusus (file folder) untuk setiap siswa. Ketika diperlukan, portofolio siswa dapat dengan mudah digunakan. Kejujuran siswa dalam melaporkan rekaman dan dokumentasi belajarnya serta kejujuran guru dalam menilai kemampuan siswa sesuai dengan kriteria yang telah disepakati merupakan syarat dilaksanakannya assesmen portofolio.
Adapun bentuk-bentuk assesmen portofolio diantaranya sebagai berikut :
1.      Catatan Anekdotal, yaitu berupa lembaran khusus yang mencatat segala bentuk kejadian mengenai perilaku siswa, khususnya selama berlangsungnya proses pembelajaran. Lembaran ini memuat identitas yang diamati, waktu pengamatan dan lembar rekaman kejadiannya.
2.      Ceklis atau daftar cek, yaitu daftar yang telah disusun berdasarkan tujuan perkembangan yang hendak dicapai siswa.
3.      Skala penilaian yang mencatat isyarat kemajuan perkembangan siswa.
4.      Tes skrining yang berguna untuk mengidentifikasi ketrampilan siswa setelah pengajaran dilakukan mislanya siswa setelah pengajaran dilakukan, misalnya: tes hasil belajar, PR, LKS, laporan kegiatan lapangan.

Jenis bukti dikumpulkan dalam portofolio bergantung pada tujuan penyususnan portofolio itu sendiri. Misalnya di kelas 1 SD siswa belajar sains dengan beberapa kompetensi diantaranya siswa mengenal anggota tubuh manusia melalui pengamatan gambar, siswa mengetahui fungsi masing-masing anggota tubuh serta siswa mampu mengidentifikasi cara memelihara kesehatan tubuh. Untuk mengumpulkan bukti bahwa siswa telah menguasai ketiga komponen tersebut, jebus portofolio yang harus dikumpulkan harus mengacu pada ketiga komponen tersebut. Misalnya laporan hasil siswa tentang kebiasaannya menggosok gigi di rumah merupakan bukti kompetensi ketiga.
Terdapat 3 langkah dalam menerapkan potofolio yaitu :
1.      Tahap persiapan yang meliputi
a.       Menentukan jenis portofolio yang akan dikembangkan
b.      Menentukan tujuan penyusunan portofolio
c.       Memilih kategori-kategori pekerjaan yang kan dimasukkan portofolio
d.      Meminta siswa untuk memilih tugas-tugas yang akan dimasukkan dalam portofolio
e.       Guru mengembangkan rubrik untuk menyekor pekerjaan siswa. Rubrik merupakan kriteria penilaian yang menjadi patokan dalam menentukan kualitas portofolio. Rubrik merupakan kriteria penilaian yang menjadi patokan dalam menentukan kualitas portofolio. Rubrik dapat disepakati bersama oleh guru dan siswa.
2.      Mengatur portofolio
Portofolio diatur sesuai kesepakatan selama satu semester. Siswa harus diinformasikan bahwa semua tugas atau beberapa tugas tersebut akan dijadikan bukti dalam potofolio. Tugas-tugas yang dijadikan dokumen harus sesuai dengan tujuan portofolio kemudian ditata dan diorganisir sesuai dengan ciri khas pribadi masing-masing. Portofolio dapat disimpan di dalam folder khusus untuk setiap siswa. Setiap bukti pekerjaan siswa yang masuk dan telah dipilih dan diberi tanggal.
3.      Pemberian nilai portofolio
Bagian akhir yaitu menilai portofolio yang telah telah lengkap. Aspek yang dinilai meliputi isi potofolio dan kelengkapan portofolio yang meliputi pemberioan sampul, nama pengembang dan perencanaan (siswa dan guru), daftar isi serta refleksi diri.



Contoh Implementasi Portofolio
Mata Pelajaran            : Sains
Kelas/semester            : III (tiga)/Gasal 2007
Sekolah                       : SD Pati Lor 01
Langkah-langkah Penyusunan Portofolio
a.       Persiapan meliputi:
·         Menetukan jenis portofolio yang akan dikembangkan yaitu portofolio individu.
·         Menentukan tujuan penyusunan portofolio yaitu mengetahui gambaran perkembangan pemahaman siswa tentang sains, mengetahui peningkatan aktivitas belajar siswa, serta mengetahui perkembangan kemandirian siswa dalam mengerjakan tugas-tugas sains.
·         Memilih kategori-kategori pekerjaan yang akan dijadikan dokumen buktri portofolio, mislanya hasil tes formatif, hasil observasi guru tentang aktivitas belajar, hasil pengamatan guru tentang kemandirian siswa dalam mengerjakan tugas-tugas sains.
·         Meninta siswa untuk memilih tugas-tugas yang akan dimasukkan dalam portofolio.
·         Guru mengembangkan rubrik untuk menyekor pekerjaan siswa. Rubrik merupakan kriteria penilaian yang menjadi patokan dalam menentukan kualitas portofolio.
·         Memutuskan bagaimana menilai portofolio yang sudah lengkap dan terorganisir dengan baik (nilai akhir portofolio)
b.      Mengatur Portofolio
Siswa mengumpulkan dan mengoleksi portofolio selama satu semester. Tugas-tugas yang akan dijadikan bukti dalam portofolio dimasukkan dalam file folder. Setiap bukti yang dikumpulkan harus diberi tanggal. Selanjutnya siswa menata dan mengorganisir tugas-tugas yang sudah terkumpul. Untuk kelas satu langkah ini dapat dibantu oleh guru.
c.       Memutuskan bagaimana portofolio tersebut dinilai. Penilaian akhir portofolio meliputi isi yang mengacu pada rubrik yang telah dibuat.

BAHAN AJAR, MODUL dan LKS
A.     Bahan Ajar
Pengertian Bahan Ajar ada bebrapa pengertian, bahan ajar merupakaninformasi, alatdanteks yang diperlukan guru/instrukturuntukperencanaandanpenelaahanimplementasipembelajaran.
Bahan ajar adalahsegalabentukbahan yang digunakanuntukmembantu guru/ instruktur dalammelaksanakankegiatanbelajarmengajar di kelas.Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. (National Center for Vocational Education Research Ltd/National Center for Competency Based Training.
Jadi, secara umum bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar.Bahan ajar merupakanbahanataumateripembelajaran yang disusunsecarasistematis yang digunakan guru dansiswadalam KBM.
            Perbedaan antara ciri-ciri bahan Ajar dengan buku teks :
            Bahan Ajar :
*                  Menimbulkan minat baca
*                  Ditulis dan dirancang untuk siswa
*                  Menjelaskan tujuan instruksional
*                  Disusun berdasarkan pola belajar yang fleksibel
*                  Struktur berdasarkan kebutuhan siswa dan kompetensi akhir yang akan dicapai.
*                  Memberi kesempatan pada siswa untuk berlatih
*                  Mengakomodasi kesulitan siswa
*                  Memberikan rangkuman
*                  Gaya penulisan komunikatif dan semi formal
*                  Kepadatan berdasar kebutuhan siswa
*                  Dikemas untuk proses instruksional
*                  Mempunyai mekanisme untuk mengumpulkan umpan balik dari siswa
*                  Menjelaskan cara mempelajari bahan ajar.



Buku Teks :
*                  Mengasumsikanminatdaripembaca
*                  Ditulisuntukpembaca (guru, dosen)
*                  Dirancanguntukdipasarkansecaraluas
*                  Belumtentumenjelaskantujuaninstruksional
*                  Disusunsecara linear
*                  Stukturberdasarlogikabidangilmu
*                  Belumtentumemberikanlatihan
*                  Tidakmengantisipasikesukaranbelajarsiswa
*                  Belumtentumemberikanrangkuman
*                  Gaya penulisannaratiftetapitidakkomunikatif
*                  Sangatpadat
*                  Tidakmemilkimekanismeuntukmengumpulkanumpanbalikdaripembaca.

Jenis Bahan Ajar :
*                  Lembarinformasi(information sheet)
*                  Operation sheet
*                  Jobsheet
*                  Worksheet
*                  Handout
*                  Modul

            Bentuk Bahan Ajar :
a.       Bahan cetak seperti: hand out, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet. Wallchart.
b.      Audio visual seperti: video/film, VCD
c.       Audio seperti: radio, kaset, CD audi, PH
d.      Visual : foto, gambar, model/maket
e.       Multi Media : CD interaktif, computer, based, internet


Cakupan Bahan  Ajar
a.       Judul, Mata Pelajaran, Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator. Tempat
b.      Petunjuk belajar (petunjuk siswa/guru)
c.       Tujuan yang akan dicapai
d.      Informasi pendukung
e.       Latihan-latihan
f.       Petunjuk kerja
g.      Penilaian


 







B.     Lembar Kerja Siswa
Lembar kegiatan siswa (student work sheet) adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh siswa.Lembar kegiatan berisi petunjuk, langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas.   Tugas-tugas yang yang diberikan kepada siswa dapat berupa teori dan atau praktik.
Langkah-langkah penulisan LKS sebagai berikut:
         Melakukananalisiskurikulum; SK, KD, indikatordan materipembelajaran.
         Menyusunpetakebutuhan LKS
         Menentukanjudul LKS
         MenulisLKS
         Menentukan alat penilaian
Struktur LKS secara umum adalah sebagai berikut:
         Judul, mata pelajaran, semester, tempat
         Petunjuk belajar
         Kompetensi yang akan dicapai
         Indikator
         Informasi pendukung
         Tugas-tugas dan langkah-langkah kerja
         Penilaian
C.       Modul
Modul merupakan alat atau sarana  pembelajaran yang berisi materi, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan menarik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan sesuai dengan tingkat kompleksitasnya.
Modul adalah bahan ajar yang disusun secara sistematis dan menarik yang mencakup isi materi, metoda, dan evaluasi yang dapat digunakan secara mandiri. Kebahasaannya dibuat sederhana sesuai dengan level berfikir anak SMK atau input SMK. Dan digunakan secara mandiri, belajar sesuai dengan kecepatan masing-masing individu secara efektif dan efesien. Memiliki karakteristik stand alone yaitu modul dikembangkan tidak tergantung pada media lain serta bersahabat dengan user atau pemakai, membantu kemudahan pemakai untuk direspon atau diakses. mengukur tingkat penguasaan materi diri sendiri, terdapat umpan balik atas penilaian peserta diklat, terdapat informasi tentang rujukan/pengayaan/referensi yang mendukung materi.

Ciri-ciri Modul :
*      mampu membelajarkan diri sendiri.
*      Tujuan antara dan tujuan akhir modul harus dirumuskan secara jelas dan terukur,
*      materi dikemas dalam unit-unit kecil dan tuntas, tersedia contoh-contoh, ilustrasi yang jelas
*      tersedia soal-soal latihan, tugas, dan sejenisnya
*      materinya up to date dan kontekstual,
*      bahasa sederhana lugas komunikatif,
*      terdapat rangkuman materi pembelajaran,
*      tersedia instrument penilaian yang memungkinkan peserta diklat melakukan self assessment.

Tujuan Penulisan Modul :
*      Memperjelas dan mempermudah penyajian pesan agar tidak terlalui bersifat verbal
*      Mengatasi keterbatasan waktu, ruang dan daya indera, baik siswa atau peserta diklat maupun guru/instruktur
*      Dapat digunakan secaa tepat dan bervariasi seperti : meningkatkan motivasi dan gairah belajar bagi siswa atau peserta didik, mengembangkan kemampuan peserta didik dalam berinteraksi langsung dengan lingkungan dan sumber belajar lainnya dan memungkinkan siswa atau peserta diklat belajar mandiri sesuai kemampuan dan minatnya. Memnungkinkan siswa atau peserta diklat dapat mengukur atau mengevaluasi sendiri hasil belajarnya.

Karakteristik Modul :
1.      Self Instructional\
Pesetta diklat mampu membelajarkan diri sendiri, tidak tergantung pada pihak lain
2.      Self Contained
Seluruh materi pembelajaran dai satu unit kompetensi atau sub kompetensi yang dipelajari terdapat di dalam satu modul secara utuh.
3.      Stand Alone
Modul manual/multimedia yang dikembangkan tidak tergantung pada media lain atau tidak harus dugunakan bersama-sama dengan media lain.
4.      Adaptif
Modul hendaknya memiliki daya adaptif yang tinggi terhadap perkembangan ilmu dan teknologi.
5.      User Friendly
Modul hendaknya juga memenuhi kaidah bersahabat/akrab dengan pemakaiannya.
6.      Konsistensi
Dalam penggunaan :
a.       FONT
b.      Spasi
c.       Tata letak (layout)
7.      Format
a.    Format kolom tunggal atau multi
b.    Format kertas vertikal atau horisontal
c.    Icon yang mudah ditangkap
8.      Organisasi
a.       Tampilkan peta/bagan
b.      Urutan dan susunan yang sistematis
c.       Tempatkan naskah, gambar dan ilustrasi yang menarik
d.      Antar bab, antar unit dan antar paragraph dengan susunan dan alur yang mudahdipahami
e.       Judul, sub judul (kegiatanbelajar), dan uraian yang mudah diikuti
9.      Daya Tarik
a.       Mengkombinasikan warna, gambar (ilustrasi), bentuk dan ukuran huruf yang serasi
b.      Menempatkan rangsangan-rangsangan berupa gambar atau ilustrasi, pencetakan huruf tebal, miring, garis bawah atau warna.
c.       Tugas dan latihan yang dikemas sedemikian rupa.

10.  Bentuk dan ukuran Huruf
a.       Bentuk dan ukuran huruf yang mudahdibaca
b.      Perbandingan huruf yang proporsional
c.       Hindari penggunaan huruf kapital untuk seluruhteks

11.  Ruang (spasi kosong)
Gunakan spasi atau ruang kosong tanpa naskah atau gambar untuk menambah kontras penampilan modul.

Kerangka Modul :
Ø    Halaman Sampul
Ø    Halaman Francis
Ø    Kata Pengantar
Ø    Daftar Isi
Ø    Peta Kedudukan Modul
Ø    Glosarium










Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking